reading book

reading book
Tampilkan postingan dengan label BUNGA KABUT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUNGA KABUT. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Juni 2016

Baktimu Guru


Hari ini kami berdiri di sini
Membuka jendela waktu
Baktimu guru menjauh di pedalaman
Kau sambut jalaran pertiwi
Hutan belantara kau jejaki
Kau redai ranjau berduri
Lautan bergelombang kau arungi

Hari ini kami masih di sini
Kembali menyanyikan lagu dulu dulu
Membilang jalur jalur pelangi
Mengulang kata kata sakti
Bersedia di bawah payung paduka
Kibaran jaur kemilang panji panji diraja

Hari ini masih segar dalam ingatan
Kau mengungsi di daerah asing ini
Hembusan ikrarmu
Menyelinap ke lubuk hati

Hari ini daripada kami
Terimalah sebuah bingkisan
Tanda ingatan kami pahatkan
Jasamu guru di dada waktu

Sabtu, 28 November 2015

Dek Mi



Anak kecil yang terlambat berjalan itu berlari kesana kemari bersama kambing peliharaanya di tengah rintik hujan. Ia berlari dengan penuh kekhawatiran sambil menarik tali tambang pengikat leher indukan dan tangan satu lagi digunakan untuk menggendong anak kambing yang masih menyusu. Dengan dipenuhi rasa iba ia terus berlari dan berteduh di tepi sudut suatu rumah yang pintunya tertutup rapat. Ya, tentu cuaca redup di siang hari itu membuat penghuni rumah enggan ke luar rumah, meskipun untuk sekedar menengok peternak kecil bersama beberapa ekor ternaknya. Lucu sekali anak itu, terus tersenyum memandang hewan ternaknya.
***
Dek Mi, begitu sebutan akrab bagi yang mengenalnya. Hidupnya bahagia meski kadang kala tersakiti oleh keluarganya. Namun bagi Dek Mi, itu bukanlah masalah besar. Di desa, ia begitu amat disayangi oleh tetangga dan sanak saudaranya. Jika terjadi sesuatu yang membuatnya menangis, tak jarang orang yang dengan senang hati menghibur kesedihannya.
“Dek Mi tinggal kalih simbok wae ten omahe  simbok  timbangane simbokmu nesu-nesu wae. Owalah melase cah cilik ayu koyo ngene ko nelongso men” ujar ibu paruh baya di desanya.

Maafkan Aku, bu...



Hal ini baru terfikir  jika alangkah lebih baiknya jika aku menulis ini saja. Kisah hidup terindahku.
Hai, aku si Bungsu. Aku anak ketiga dari tiga bersaudara. Aku adalah anak yang terlanjur dibuat amat berharga oleh Tuhanku. Dan, aku menyukai itu. Hidupku.

***

Ibuku tercinta.
Maa, aku pengen itu” pintaku merajuk saat usiaku masih anak-anak. Aku sering kali meminta ini dan itu. Manja sekali. Hal itu terus ku ulangi hingga aku memasuki masa remaja.
Ibu ku, tak pernah menunda apa yang ku mau. Ia rela mengorbankan apa yang ia punya demi membahagiakan anak-anak tercintanya. Tentu begitu, setiap ibu pasti memiliki hati sebening embun yang berkilau secerah emas dan permata. Bahkan Ibuku, lebih dari itu. Lebih daripada seorang ibu di muka umum. Ibuku, kau sungguh istimewa.

Si Bungsu ini sungguh naif, bu. Si Bungsu begitu buta dengan jutaan kebaikanmu. Kasih sayangmu yang begitu besar bahkan amat jarang terlihat di mataku. Ada apa denganku bu? Mengapa anak bungsumu menjadi seperti ini?

Tentu harusnya aku tahu, batapa sakit hatimu karena perkataanku. Juga harusnya aku tahu, betapa hancurnya hatimu karena perlakuan kasarku.

Aku bingung, aku sering melihat anak-anak sepertiku, yang tak mengerti pengorbanan orang tuanya. Begitu keji membalas cinta ayah ibunya. Melakukan hal sekecil debu saja selalu diingat-ingat, seolah kebaikan itu telah berbentuk. Harusnya anak-anak seperti aku ini menyadari, bahwa itu hanya ibarat debu, kecil sekali. Bila dibayangkan menjadi sebuah bentuk pun belum tentu terlihat. Berbeda dengan pengorbanan orang tua.

Untuk menebus kesalahanku, akan aku ceritakan kisah istimewa perjuangan Ibuku yang membesarkanku dengan tangannya yang halus dan penuh keletihan. Ibu, maafkan aku... Sumimasen

14-04-2015

Bungsu

Rabu, 11 Maret 2015

10-03-2015


Bahkan ada orang tua yang keji menyiksa anaknya, dengan tangannya sendiri. Tangan yang dulu digunakan untuk membesarkan, kini berubah menjadi tangan untuk menyiksa.

Aku adalah anakmu, anak bungsu kesayanganmu. Aku senang menyebut diriku dengan julukan si Bungsu Berkabut. Aku punya banyak asap tebal. Sehingga tak satupun melihatku dari kejauhan.

Aku si bungsu, aku adalah gadis terlantar. Ditinggalkan oleh banyak orang. Hanya karena aku memiliki sifat dia, ayahku. Padahal aku tak pernah meminta aku terlahir sama, membawa gennya yang kini membuatku dibenci olehnya, yang dulu membesarkanku.

Entah karma apa yang aku alami, aku tak pernah tahu. Dan tak ingin tahu. Yang selamanya aku ketahui adalah aku si bungsu dengan segala kesedihan. Gadis malang yang mencoba menembus dinding kabut kehidupannya. Aku mencintai hidupku, dan aku juga mencintai keluargaku. Tapi mereka tidak. Kami mempunyai cara hidup yang berbeda.

Aku, si bungsu dengan segala hal menyedihkan. Menyelimuti hari dan malamku. Aku benci itu, tapi aku terbiasa dengan itu. Mengapa aku tak bisa bangkit dari derita, atau nestapa. Ibu, kau begitu menyayangiku. Tapi kini aku telah tumbuh besar. Kini aku berubah. Jangan kau beri aku kasih sayang dengan cara yang sama. Ibu, aku ini anakmu. Jangan kau teriaki dengan caci makimu, yang membuat hatiku hancur berkeping-keping pada saat itu juga. Sungguh, mengapa kau tak mengenalku, bu. Aku ini anakmu, si Bungsu.