reading book

reading book
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Agustus 2016

Solusi mengatasi Orang Tua yang BETAH nunggu anak di sekolah



Assalamu’alaikum warahmatullah_w
Salam kangen ya, lama ga post...
Masih dalam satu season nih “tahun pertama ngajar” suka greget gak sih tiap ngajar di awal semester sering ada yang nongkrongin kita gitu. Yap, OTM alias orang tua murid tentunya.
Sebenernya sih wajar aja kalau di awal masuk sekolah orang tua mau mengawasi entah itu ngawasin anak atau ngawasin gurunya. Heheh.... tapi, kalo udah 3hari atau seminggu atau malah sebulan yo pasti tentu kita geram juga yak sebagai pendidik. Anak kalo terlalu sering ditungguin juga jadinya ga terlatih mandiri alias jadi manja. Nah jadi gimana nih cara nanganin hal semacam ini? Tentu sekolah sudah punya peraturan mengenai ini, tapi kalau belum ya apa salahnya kalo dicoba kasih surat pernyataan buat orang tua yang agak “bandel” dengan peraturan yang sudah ditetapkan. (tapi harus dengan persetujuan Kepala Sekolah dulu ya). Ini adalah salah satu contoh rangkaian surat pernyataan yang sederhana tapi ngena. InsyaAllah....

SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini orang tua dari siswa:
Nama                                      :
Tempat, Tanggal lahir          :
Alamat                                   :

No. Telpon                             :
Dengan ini saya sebagai orang tua/wali murid  MENYETUJUI / TIDAK MENYETUJUI untuk TIDAK MENDAMPINGI lagi anak tersebut baik di kelas maupun di sekitar kelas selama proses belajar berlangsung di Sekolah.
Demikian Surat Pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya tanpa ada paksaan dari pihak manapun juga.

                                                                          ........,      Agustus 2016
                                                                          Orang tua/ Wali Murid


                                                                          (....................................)
*coret yang tidak perlu

Selasa, 28 Juni 2016

Baktimu Guru


Hari ini kami berdiri di sini
Membuka jendela waktu
Baktimu guru menjauh di pedalaman
Kau sambut jalaran pertiwi
Hutan belantara kau jejaki
Kau redai ranjau berduri
Lautan bergelombang kau arungi

Hari ini kami masih di sini
Kembali menyanyikan lagu dulu dulu
Membilang jalur jalur pelangi
Mengulang kata kata sakti
Bersedia di bawah payung paduka
Kibaran jaur kemilang panji panji diraja

Hari ini masih segar dalam ingatan
Kau mengungsi di daerah asing ini
Hembusan ikrarmu
Menyelinap ke lubuk hati

Hari ini daripada kami
Terimalah sebuah bingkisan
Tanda ingatan kami pahatkan
Jasamu guru di dada waktu

Mengatasi Rasa Malu di Awal Mengajar

Ada yang tahu gimana rasanya jadi guru baru?
Guru adalah jembatan ilmu. JEMBATAN berarti harus siap diinjak dong ya....hehehe Bercanda kok...
Kalau menjalani tantangan baru, kita harus bisa fokus sama peluang (manfaat), BUKAN resiko dari tantangan tersebut. Ingat... Fokus kepada PELUANG.
Mungkin dari kalian ada yang sudah pernah mengalami rasanya jadi guru baru, atau masih ingat rasanya jadi guru baru, dan atau sekarang ini sedang mengalami jadi guru baru?
Bagaimana rasanya diinjak? Pasti sakit dong ya, dicaci maki sana sini karena modal pengalaman mengajar belum punya, kondisi diri yang masih belum bisa adaptasi dengan lingkungan, selalu punya rasa salah setiap melangkah padahal kita tahu yang kita lakukan sebetulnya sudah benar. Tapi entah kenapa rasanya merantau ke sekolah seperti dihantui bayangan hitam. Dingin dan kelam di sudut ruangan.
Tapi tahukan kamu, itu hanya karena kamu BAPER. Ibarat sedang perform sih kamu belum sepenuhnya menguasai panggung.

“yang nulis artikel kok sok tahu banget sih.....” (>,<)

Bukannya sok tahu teman, karena saya sendiri merasakan tahun pertama mengajar rasanya extream banget. Ketika pertama masuk ke dalam kelas, semua anak hening, si siswa hanya memandang ke depan, sedangkan guru di depan yang menyapa mereka abaikan. Tetap hening. Padahal lihatlah...
Berpuluh pasang mata di luar kelas sedang mengawasi, memperhatikan dan entah bertanya atau berkomentar.

“kok gurunya kaku banget sih”.

Berawal dari rasa percaya diri yang tinggi, berharap mendapat sambutan yang hangat dan bisa langsung menguasai kelas tapi ternyata semuanya nihil karena hanya terbalas dengan kedipan mata anak-anak tak berdosa.

“ini artikel banyak banget prolognya, tapi ga ngasih tau cara nanganinnya”
Nih saya share deh tips untuk mengatasi rasa BAPER di tahun pertama ngajar....
1.   1. Niat. Lho kok niat? Iya, karena niat adalah kunci penggerak hati yang akan menentukan kamu mau bertahan atau tidak. Kalau niatnya sekedar coba-coba sih, paling kena badai dikit langsung ikut terbang keluar angkasa.

2. Yakin. Kita bukan memberikan ilmu di sana, tapi YAKIN-i bahwa kita akan menemukan ilmu-ilmu baru sehingga nantinya pengalaman mengajar yang kita jalani bisa terasa manfaatnya.
Ingat... “PENGALAMAN ADALAH GURU TERBAIK”
Bukan seberapa dalam modal ilmu yang kamu bawa ke sana, tapi seberapa banyak ilmu yang akan kamu gondol ketika kamu keluar dari sana.

3. Duduk manis dan dengarkan. Ini tahap awal beradaptasi dengan teman. Tidak masalah diawal kamu terlihat seperti orang yang kikuk, ga asik, cengo’ atau istilah lainnya. Perlahan, amati gaya bahasa dan sikap mereka. Fokus, lihat mana yang mendekati dengan kepribadianmu maka dialah yang menjadi teman pertamamu.
Mulailah dengan pertanyaan-pertanyaan ringan seperti “Berapa lama kamu ngajar di sini?”,Bagaimana teknik mengajar yang diajarkan di sini?”, dan jangan lupa tanyakan”Bagaimana situasi siswa dan orang tua di sekolah?”. Supaya apa sih? Setidaknya kita bisa mengambil pelajaran-pelajaran dari luar. Kalau teman pertamamu sudah merasakan keluh dan kesahnya mengajar di sekolah tersebut tentu itu menjadi point buat kamu, supaya kamu ga ngelakuin kesalahan yang sama seperti sebelumnya.
Kalau sudah mulai merasa nyambung dengan sekolah, maka lanjut ke tahap berikutnya.

4. Mulai ajak bicara semua pihak yang terlibat di dalam sekolah, mulai dari Pemimpin sampai dengan yang paling bawah misal, OB.
“tapi...... kalo ga pinter ngomong gimana?”
Ga usah khawatir, bicara tidak berarti kamu harus ahli menguasai percakapan. Buat yang masih punya perasaan dag...dig...dug... cukup lakukan hal simple “TERSENYUM sambil MENGANGGUKKAN KEPALA (satu kali)”. Itu udah jadi percakapan yang paling sopan buat orang baru. Maka dengan sendirinya orang lain akan bertanya dan memulai percakapan.
“kan enak, kita tinggal jawab aja. Ga perlu bingung kita ketemu mau nanya apa yaa...”

5. Terakhir. Jaga sikap, sopan dan patuh kepada Pemimpin. Kamu itu masuk ke lingkungan orang lain, maka kamu yang harus beradaptasi. Ikuti aturan yang memang sesuai dengan aturan standar. Kalau ternyata kok peraturan di sana bertolak belakang dengan hati nurani kamu, saran saya cuma satu “HIJRAH”. 

Minggu, 22 Mei 2016

Peraturan Pemerintah tentang pendidikan sekarang "EDAN"?

Peraturan pemerintah tentang pendidikan sekarang EDAN?

A
da orang bilang sekarang jaman edan. Berita tentang maraknya pelaku kasus-kasus berat yang mendapat hukuman seringan-ringannya. Mulai dari pemerkosaan sekaligus pembunuhan terhadap pelajar hingga kasus di akhir penghujung mei 2016, seorang guru yang dipenjara akibat mencubit siswa.
Tahukah? Sejatinya setiap peraturan memiliki sisi positif dan negatif. Mengapa kini pendidik dilarang menggunakan hukuman fisik? Berikut beberapa alasannya ditinjau dari segi psikologi anak:

1. Anak merasa takut untuk datang ke sekolah
Anak yang melakukan kesalahan tidak harus selalu diberikan hukuman fisik. Ketika hukuman sudah melekat  ke dalam memori anak, maka anak akan cenderung menutup diri dari lingkungan (sekolah). Efeknya anak akan mulai merasa malas datang ke sekolah karena takut dihukum guru ketika melakukan kesalahan.

2. Mengurangi kasus pem-BULLY-an di sekolah
“Sekolah itu menyenangkan” kata siswa jaman 90-an. Kalau sekolah dihiasi dengan hukuman-hukuman fisik, setiap hari anak melihat hukuman fisik di sekolah. Masihkah menyenangkan? Tidak heran jika dalam memori anak terekam bahwa menghukum (fisik) orang diperbolehkan di sekolah. Maka akan marak kasus-kasus BULLYING antar siswa.
Lantas bagaimana jika seorang guru dilarang menghukum siswa. Bukankah tugas guru tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik?

Betul sekali, tugas guru memang selain memberikan pembelajaran akademik, guru juga memiliki tugas untuk memberikan pendidikan moral bagi siswanya. Tidak adanya hukuman fisik di sekolah bukan berarti tidak ada lagi pendidikan moral. Lalu bagaimana caranya guru menyampaikan pendidikan moral tersebut?

CARA MENYIKAPI PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH

1. Tugas guru yang paling utama adalah mencontohkan bagaimana menjadi pribadi sebaik-baiknya pribadi. Guru adalah seorang public figur bagi siswa-siswanya.
2. Menasehat dan problem solve. Nasehat itu tidak selalu (datang) ketika siswa  dalam perilaku yang tidak baik, dalam keadaan siswa yang sedang baik-baik saja pun guru diharuskan menstimulus (mengingatkan) siswa untuk tetap menjaga etika yang baik. Ajak siswa untuk berdiskusi tentang masalah-masalah yang mungkin dapat terjadi di kehidupan sehari-hari dan berikan beberapa pilihan jawaban untuk mengetahui opsi manakah yang lebih tepat dari penyelesaian masalah tersebut.
3. Terapkan “tiga tangga teguran”. Tegurlah jika memang siswa didapati melakukan kesalahan. Jika teguran pertama tidak dihiraukan oleh siswa, maka guru diperbolehkan untuk meminta bantuan kepada pihak ketiga (guru BK atau pemimpin) untuk menasehati siswa. Jika siswa masih melakukan kesalahan, maka lakukan teguran ketiga melalui Surat Pemberitahuan (SP) kepada orang tua siswa.

BAGAIMANA SEBAIKNYA PERAN ORANG TUA?

Surat Pemberitahuan (SP) berfungsi untuk memberitahukan bahwa siswa memiliki permasalahan yang tidak bisa ditangani hanya dari sisi Sekolah saja. Untuk itu, orang tua hendaknya mengevaluasi perilaku anak dengan beberapa tahapan, diantaranya:
1. Bertanya kepada anak tentang sebab atau alasan ia melakukan kesalahan berturut-turut
2. Datanglah ke sekolah dan minta penjelasan kepada pihak-pihak yang terlibat di sekolah
3. Lakukan tinjauan keakuratan antara penjelasan anak dengan penjelasan pihak sekolah
4. Konfirmasikan bila terjadi perbedaan penjelasan ke sekolah dengan mempertemukan anak dengan pihak sekolah untuk bermusyawarah yang tentunya dengan tujuan mencari jalan terbaik bagi anak

Akan tetapi faktualnya di lapangan tidak semulus apa yang tertulis di sini. Terkadang belum sampai masuk ke tahap musyawarah justeru emosi sudah mulai naik ke ubun-ubun. Entah emosi karena mengapa si anak melakukan kesalahan yang sama secara berturut-turut atau akibat tidak terima jika anak dituding melakukan kesalahan yang mungkin menurut orang tua adalah sebuah kewajaran. 

Untuk itu perlu disadari beberapa hal yang sebaiknya dihindari, seperti:

1. Melakukan pembelaan dengan emosi di hadapan anak.
Melakukan pembelaan secara nyata di hadapan anak akan membuat anak merasa bahwa dirinya menang. Bagi anak-anak yang memang melakukan kesalahan justeru hal ini akan membuat anak berpikir bahwa setiap kesalahannya akan selalu mendapat pembelaan dan perlingdungan dari orang tuanya. Anak akan cenderung melakukan kesalahan-kesalahan lainnya.

2. Memperkeruh suasana dengan membawa pihak-pihak yang tidak terlibat (mencampuradukan pembahasan dengan kasus-kasus yang berbeda)
kenapa anak saya yang dihukum? Temannya kemarin ngelakuin kesalahan juga ga dikasih peringatan kaya anak saya. Kan dia juga sama-sama salah
Setiap permasalahan tentunya memiliki cara penyelesaian yang berbeda. Fokuslah pada inti dari permasalahan si anak dan temukan cara-cara terbaik bagi si anak. Terkadang orang tua yang overprotektif akan membanding-bandingkan kesalahan anaknya dengan kesalahan orang lain.

3. Membawa permasalahan langsung ke ranah hukum tanpa dimusyawarahkan

Tentunya hal ini akan sangat merugikan bagi kedua belah pihak jika sebelumnya tidak dilakukan pencerahan. Karena jika sudah memasuki ke ranah hukum, maka yang bertindak untuk memproses bukan lagi antara orang tua dan guru. Jika sudah terjadi kesalah-fahaman, maka akan terlihat yang salah bisa jadi benar dan atau yang benar bisa jadi salah. Perlu diperhatikan bahwa kata “ maaf ” sudah tidak lagi bisa menjadi penyelesaian yang adil bagi hukum yang berdiri.